Genre not found
Artist not found
Album not found
Song not found

Tentang Rumahku
Dialog Dini Hari Lyrics


Tentang rumahku
Di ujung bukit karang yang berbatu
Beranda rumahku
Tumbuh-tumbuhan liar tak tahu malu
Hm hm

Tentang rumahku
Berbagai macam musim telah kurengkuh
Jadi saksi bisu
Cerita mimpi indah di masa lalu

Yang terlahir
Dari sebuah gerbang waktu
Yang menjadi
Tembok kokoh mengitari rumahku

Adakah yang lebih indah dari semua ini
Rumah mungil dan cerita cinta yang megah
Bermandi cahaya di padang bintang
Aku bahagia

Tentang rumahku
Takkan goyah walau badai mengamuk
Seperti pohon jati
Akarnya tertancap di poros bumi

Sewindu merindu
Kembali pulang dengan sebongkah haru
Senyum menyambut
Bagai rindu kumbang pada bunga di taman

Adakah yang lebih indah dari semua ini
Rumah mungil dan cerita cinta yang megah
Bermandi cahaya di padang bintang
Aku bahagia
Aku bahagia

Cucuru
Cucuru

Lyrics © O/B/O APRA AMCOS

Lyrics Licensed & Provided by LyricFind
To comment on specific lyrics, highlight them
Most interesting comments from YouTube:

Dionysius Damas Pradiptya

Lagu ini akan selalu nempel di hidup gue, lagu metafora memori tentang rumah masa kecil gue.
Ini adalah cerita nyata yang gue alamin sendiri:
Suatu pagi di awal triwulan terakhir tahun 2015, hari-hari terakhir di rumah masa kecil itu terasa sangat nyesek.
Hari itu adalah hari terakhir gue menempati rumah itu, setelah puluhan tahun keluarga gue hidup disitu. Kecuali kasur dan pesawat Teve, semua udah terangkut ke rumah baru nun jauh di timur sana. Sambil menerawang pelosok, tiap sudut, dan pojok-pojok rumah, gue berusaha menghapal letak-letak benda penghuni rumah yang selama puluhan tahun menghiasi dinamika keluarga gue. Bahkan letak pigura foto di tembok gue coba apalin, susunannya, isi piguranya, dan paku yang tersisa di tembok. Bekas goresan mebel dan kulkas di lantai yang menandai letaknya sebelum diangkut ke mobil bak. Letak Rak buku dan meja belajar/kerja gue hingga seluruh isi ruang makan.

Gue memaksa untuk tidur disitu sampai hari terakhir gue boleh tinggal disitu, meskipun isi rumah dan keluarga yang lain udah beberes rumah baru tapi gue coba untuk menikmati detik-detik terakhirnya. Diantara sejuta alasan kenapa orang harus pindah rumah, alasan kenapa keluarga gue memutuskan pindah ini bukanlah alasan yang paling menyenangkan bagi gue. Karena di rumah ini gue hidup besar, mendewasa, membangun mimpi, mencipta memori, & melihat betapa getirnya kehidupan berputar.

Sebelum gue beranjak melangkahkan kaki keluar dari rumah itu untuk terakhir kalinya untuk berangkat kerja, gue memutuskan untuk menyalakan teve untuk sekedar melihat berita dan menyalakan sebatang rokok terakhir. Keputusan yang sampe sekarang membuat gue percaya ga ada yang namanya kebetulan. Keputusan yang membuat gue selalu ingat gue punya memori rumah masa kecil yang bahagia, yang luar biasa, yang akan selalu gue bisa ceritakan terus ke orang-orang dan kalau mungkin ke anak cucu gue.
Karena seketika gambar dan suara di teve makin jelas, pas banget Dialog Dini Hari memulai intro lagu ini secara LIVE di acara NET pagi. Untuk pertama kalinya gue mendengar lagu ini di rumah itu, tetapi juga untuk yang terakhir kalinya juga gue mendengarkan lagu ini di rumah mungil itu.

Dan meskipun pada akhirnya gue masih bergelut dengan perasaan berkecamuk untuk keluar dari rumah itu, begitu lagu itu selesai, gue langsung matikan teve dan seluruh listrik rumah, gue kunci rumah itu sembari gue kunci pula kenangan akan rumah masa kecil gue. Mungkin ga akan ada yang tersisa lagi di rumah itu, tapi gue masih menyisakan ruang untuk kenangan rumah mungil dan cerita cinta yang megah.



Khalfisri Rifki Dewana

Tentang rumahku
Di ujung bukit karang yang berbatu
Beranda rumahku
Tumbuh-tumbuhan liar tak tahu malu

Tentang rumahku
Berbagai macam musim telah kurengkuh
Jadi saksi bisu
Cerita mimpi indah di masa lalu

Yang terlahir dari sebuah gerbang waktu
Yang menjadi tembok kokoh mengitari rumahku

Adakah yang lebih indah dari semua ini
Rumah mungil dan cerita cinta yang megah
Bermandi cahaya di padang bintang
Aku bahagia

Tentang rumahku
Takkan goyah walau badai mengamuk
Seperti pohon jati, akarnya tertancap
Di poros bumi

Sewindu merindu
Kembali pulang dengan sebongkah haru
Senyum menyambut
Bagai rindu kumbang pada bunga di taman



Vita Jayusman

Kembali mendengarkan lagu ini lagi saat pengumuman SK WFH 2020 di kantor ku berakhir, serasa sesak sekaligus bahagia .

Sesak karena tidak bisa lama-lama lagi dirumah utama kami, ini hal yang paling langka untuk berlama-lama di rumah setelah aku sudah lepas kuliah,
dan tentunya yang membuat isak tangis ku adalah meninggalkan ayah sendirian lagi.

Bahagia karena kembali bisa normal bekerja, kembali bertemu circle ku, mesku dengan banyaknya protokol yang tak biasa.

Ku pikir bercerita soal rumah, cerita ku yang paling sedih, sedih karena sejak kepergian ibu, ayah tidak pernah mau beranjak dari rumah ini, dan memilih sendirian, aku dan kakak kakak ku yang lain mencoba untuk mengajak ikut bersama kami, Ayah bersih keras disini, kami tak bisa memaksanya dan tidak bisa pula kami tinggal di rumah ini.

Ternyata setelah menikmati lagu ini dan banyak baca cerita di kolom komentar, banyaaak kisah sedih lainnya yang membuat ku mengisak tangis rasa syukur, sekaligus pembelajaran untuk ku bahwa rumah ternyata bukan tentang hanya tempat tinggal, tapi semua tentang potret kenangan dan juga semua memori indah yang terpaku paten dihati masing-masing pemilik jiwa disebuah tempat bernama "rumah ku"



All comments from YouTube:

Dionysius Damas Pradiptya

Lagu ini akan selalu nempel di hidup gue, lagu metafora memori tentang rumah masa kecil gue.
Ini adalah cerita nyata yang gue alamin sendiri:
Suatu pagi di awal triwulan terakhir tahun 2015, hari-hari terakhir di rumah masa kecil itu terasa sangat nyesek.
Hari itu adalah hari terakhir gue menempati rumah itu, setelah puluhan tahun keluarga gue hidup disitu. Kecuali kasur dan pesawat Teve, semua udah terangkut ke rumah baru nun jauh di timur sana. Sambil menerawang pelosok, tiap sudut, dan pojok-pojok rumah, gue berusaha menghapal letak-letak benda penghuni rumah yang selama puluhan tahun menghiasi dinamika keluarga gue. Bahkan letak pigura foto di tembok gue coba apalin, susunannya, isi piguranya, dan paku yang tersisa di tembok. Bekas goresan mebel dan kulkas di lantai yang menandai letaknya sebelum diangkut ke mobil bak. Letak Rak buku dan meja belajar/kerja gue hingga seluruh isi ruang makan.

Gue memaksa untuk tidur disitu sampai hari terakhir gue boleh tinggal disitu, meskipun isi rumah dan keluarga yang lain udah beberes rumah baru tapi gue coba untuk menikmati detik-detik terakhirnya. Diantara sejuta alasan kenapa orang harus pindah rumah, alasan kenapa keluarga gue memutuskan pindah ini bukanlah alasan yang paling menyenangkan bagi gue. Karena di rumah ini gue hidup besar, mendewasa, membangun mimpi, mencipta memori, & melihat betapa getirnya kehidupan berputar.

Sebelum gue beranjak melangkahkan kaki keluar dari rumah itu untuk terakhir kalinya untuk berangkat kerja, gue memutuskan untuk menyalakan teve untuk sekedar melihat berita dan menyalakan sebatang rokok terakhir. Keputusan yang sampe sekarang membuat gue percaya ga ada yang namanya kebetulan. Keputusan yang membuat gue selalu ingat gue punya memori rumah masa kecil yang bahagia, yang luar biasa, yang akan selalu gue bisa ceritakan terus ke orang-orang dan kalau mungkin ke anak cucu gue.
Karena seketika gambar dan suara di teve makin jelas, pas banget Dialog Dini Hari memulai intro lagu ini secara LIVE di acara NET pagi. Untuk pertama kalinya gue mendengar lagu ini di rumah itu, tetapi juga untuk yang terakhir kalinya juga gue mendengarkan lagu ini di rumah mungil itu.

Dan meskipun pada akhirnya gue masih bergelut dengan perasaan berkecamuk untuk keluar dari rumah itu, begitu lagu itu selesai, gue langsung matikan teve dan seluruh listrik rumah, gue kunci rumah itu sembari gue kunci pula kenangan akan rumah masa kecil gue. Mungkin ga akan ada yang tersisa lagi di rumah itu, tapi gue masih menyisakan ruang untuk kenangan rumah mungil dan cerita cinta yang megah.

IGEDE PRILA

keren narasimu bro, saya juga ngalamin kenangan seperti ini. walaupun hanya kamar kos, tapi banyak kenangan dan hal2 yang tak pernah terlupakan, beberapa lirik lagu tercipta di kamar kos saya ini, apa daya Pandemi melanda dgn berat hati harus selesai kos dan pulang ke kampung halaman.

Sunshine Cooky

Makasih udah berbagi cerita sama gue😭

Agoy Fads

mantab bro, semoga lu bisa balik lagi ke rumah itu

senda gurau

Ceritanya mengena di hati :)

joko wicaksono

Dionysius Damas Pradiptya terima kasih siap otak atik dan lanjutkan

32 More Replies...

Khalfisri Rifki Dewana

Tentang rumahku
Di ujung bukit karang yang berbatu
Beranda rumahku
Tumbuh-tumbuhan liar tak tahu malu

Tentang rumahku
Berbagai macam musim telah kurengkuh
Jadi saksi bisu
Cerita mimpi indah di masa lalu

Yang terlahir dari sebuah gerbang waktu
Yang menjadi tembok kokoh mengitari rumahku

Adakah yang lebih indah dari semua ini
Rumah mungil dan cerita cinta yang megah
Bermandi cahaya di padang bintang
Aku bahagia

Tentang rumahku
Takkan goyah walau badai mengamuk
Seperti pohon jati, akarnya tertancap
Di poros bumi

Sewindu merindu
Kembali pulang dengan sebongkah haru
Senyum menyambut
Bagai rindu kumbang pada bunga di taman

Kadek Kondra

K

Andrean Firmansyah

Khalfisri Rifki Dewana wkwkw

Jajay Suryaman

NadaNyaSalah#Azmi

More Comments

More Videos